Gejala Dan Penanganan Penyakit Radang Usus Buntu
Untuk mendiagnosis penyakit Radang Usus Buntu (Apendisitis) tergolong agak rumit dikarenakan gejala yang tampak pada pasien penderita Radang Usus Buntu (Apendisitis) terlihat sangat mirip dengan penyakit lain, seperti permasalahan pada kandung empedu,
kandung kemih atau infeksi saluran kemih , penyakit Crohn's , gastritis, infeksi usus, dan masalah ovarium.
Gejala radang usus buntu sendiri dapat bervariasi tergantung pada stadiumnya :
1. Penyakit radang usus buntu akut
Pada kondisi ini gejala yang ditimbulkan adalah tubuh akan mengalami panas tinggi, mual-muntah, nyeri perut kanan bawah, akan terasa sangat sakit ketika dibawa berjalan sehingga agak terbongkok, namun tidak semua orang menunjukkan gejala seperti ini, bisa juga hanya bersifat meriang, atau mual-muntah saja.
2. Penyakit radang usus buntu kronik
Untuk pasien yang telah mencapai stadium ini gejala yang ditimbulkan sedikit mirip dengan penyakit maag dimana dapat terjadi nyeri di daerah sekitar pusar dan terkadang demam yang hilang timbul.
Seringkali disertai dengan rasa mual, bahkan kadang muntah, kemudian nyeri itu akan berpindah ke perut kanan bawah dengan tanda-tanda yang khas pada apendisitis akut yaitu nyeri pd titik Mc Burney (istilah kesehatannya).
Penyebaran rasa nyeri juga akan bergantung pada arah posisi/letak usus buntu itu sendiri terhadap usus besar, Apabila ujung usus buntu menyentuh saluran kencing ureter, nyerinya akan sama dengan sensasi nyeri kolik saluran kemih, dan mungkin ada gangguan berkemih.
Bila posisi usus buntu tersebut mengarah ke belakang, rasa nyeri muncul pada pemeriksaan tusuk dubur atau tusuk vagina. Pada posisi usus buntu yang lain, rasa nyeri mungkin tidak begitu spesifik.
Harus dilakukan penanganan dan perawatan terhadap pasien yang menderita penyakit radang usus buntu. Proses diagnosis sudah pasti akan dilakukan, maka yang dilakukan untuk mengatasi penyakit radang usus buntu (appendicitis) adalah operasi.
Pada kondisi dini apabila kondisi usus buntu yang langsung terdiagnosa kemungkinan dapat dilakukan dengan pemberian obat antibiotika, namun demikian tingkat kekambuhannya dapat mencapai 35%.
Pembedahan pada usus buntu sendiri dapat dilakukan secara terbuka atau semi-tertutup (laparoskopi). Setelah dilakukan pembedahan pasien harus tetap diberikan antibiotika selama 7 – 10 hari.
Selanjutnya adalah dengan melakukan perawatan luka operasi yang harus terhindar dari kemungkinan infeksi sekunder dari alat yang terkontaminasi.
Rating: 4.5

Pohon kamboja, khususnya kamboja berbunga putih (Plumeira alba),
masih dipandang sebelah mata. Sebab, kebanyakan tanaman ini tumbuh di
kuburan. Tidak jarang, orang menyebutnya sebagai bunga kuburan.
Bunganya yang telah dikeringkan, lantas ditumbuk halus, banyak dipakai
sebagai bahan baku wewangian, kosmetik, industri kerajinan dupa, spa,
serta teh herbal.
Untuk harga perkilo, kami tidak mematok harga paten dikarenakan harga
yang tidak stabil dan berubah sewaktu-waktu. Jika anda berminat,
silahkan hubungi kami atau jika anda ada di Banjarmasin, bisa datang
langsung ke tempat kami.





